Wisata Religi Menelusuri Jejak Para Kekasih Allah: Perjalanan Spiritual di Nganjuk

Kota "angin" itulah julukan kota Nganjuk yang menyuguhkan kemegahan keindahan alam mulai dari keindahan lereng gunung wilis hingga air terjun sedudo.

Tetapi bagi petualang sejati tentu perjalanan ke Nganjuk belum benar-benar tuntas jika hanya menikmati lanskap hijaunya tanpa menyentuh ruh yang menjaga kedamaian tanah ini.

Dibalik populernya air terjun sedudo yang melegenda dan keindahan alam di kecamatan Sawahan Nganjuk, tersimpan jejak spiritualitas yang sangat kuat melalui keberadaan makam keramat para tokoh besar.

Mengunjungi makam kanjeng jimat, ki ageng ngliman dan syech sulukhi bukan sekedar ziarah ritual, melainkan guna memahami bagaimana keagungan alam dan keteguhan iman telah membentuk jati diri Nganjuk selama berabad-abad lamanya.

1. Kanjeng Jimat

Kanjeng jimat, simbol sinergi ulama dan umara di Berbek. Perjalanan wisata religi ke Nganjuk belum lengkap tanpa mengunjungi kecamatan berbek atau ibu kota  lama Nganjuk.

Disini bersemayam R.M.T Sosrokoesoemo I ( dikenal dengan julukan kanjeng jimat ). Pada masa peralihan kekuasaan di Jawa Kanjeng jimat merupakan bupati pertama di Berbek.

Nama Jimat bukanlah mengarah pada klenik, tapi merupakan gelar kehormatan sebab beliau adalah figur yang sangat di jimat atau disayangi dan diandalkan rakyatnya karena kesolehanya.

Kanjeng jimat tidak hanya pejabat tetapi penganut Agama yang taat. Selama dalam kepemimpinanya islam berkembang pesat. Kanjeng Jimat berhasil memadukan peran sebagai umara dan kedekatanya dengan ulama.

Masjid Al-Mubarok

Masjid ini berada tepat disamping komplek makam, sekaligus jadi saksi bisu kejayaan Islam di Berbek. Masjid yang dibangun pada tahun 1745 ini memiliki arsitektur yang unik. Diantaranya struktur tanpa paku, bencet ( jam matahari), dan akulturasi budaya.

Suasana saat siarah

Suasana penuh ketenangan biasanya langsung terasa saat berziarah. Biasanya ramai peziarah pada malam jumat legi. Do'a-Do'a di makam imi seringkali membawa pesan tentang kepemimpinan yang adil dan amanah.

2. Ki Ageng Ngliman

Ki ageng ngliman, sang penjaga gerbang wilis. Perjalanan dilanjutkan ke arah selatan menuju lereng Gunung Wilis, para peziarah akan sampai di desa ngliman kecamatan Sawahan. Disini bersemayam Ki ageng ngliman.

Tokoh dibalik Nama Ngliman

Ki ageng ngliman diyakini sebagai tokoh yang babat alas atau pembuka lahan wilayah ini. Beliau terkenal bukan hanya sebagai seorang ksatria saja tetapi juga tokoh dan pemuka agama yang menyebarkan ajaran tauhid yang saat itu diwilayah tersebut masih kental ajaran animisme.

Nama Ngliman sendiri seringkali dikaitkan dengan istilah iman atau upaya dan usaha mengimankan masyarakat. Beliau harus menaklukkan medan alam yang berat demi tegaknya syiar Islam.

Mengunjungi atau ziarah ke makam ini sering dikaitkan dengan tirakat karena medan yang sangat menanjak. Selain itu lokasi makam yang menyatu dengan alam juga menjadikan keunikan tersendiri.

Lokasi makam yang dekat dengan air terjun sedudo juga sering dijadikan oleh para peziarah untuk menggabungkan kunjungan mereka. Selain itu setiap tahun makam ini juga menjadi pusat upacara adat dan Agama.

Ziarah ke makam ki ageng ngliman adalah tentang menghargai alam. Kita diajarkan dan diajak merenungkan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam ( Rahmatan lil alamin ).

3. Syech Sulukhi

Kedalaman tasawuf dijalur utama. Destinasi ke tiga adalah di kecamatan wilangan berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Disini terdapat majam syech sulukhi seorang tokoh misterius tetapi memiliki pengaruh besar dalam peta spiritual di Jawa Timur bagian barat.

Filosofi Nama Sulukhi

Dalam dunia tasawuf nama sulukhi berasal dari kata suluk yang bermakna jalan menuju Tuhan atau proses penyucian jiwa. Ini agak beda dengan kanjeng jimat yang dikenal sebagai tokoh pemerintah, syech sulukhi dikenal sebagai guru spiritual.

Makam syech sulukhi menjadi simbol bahwa dakwah tidak harus dilakukan melalui panggung kekuasaan. Beliau diyakini sebagai tokoh penyebar Islam di Nganjuk bagian barat.

Melalui pengajian kecil ( halaqoh ) dan keteladanan akhlak beliau berhasil mengislamkan wilayah wilangan dan sekitarnya.

Makam syech sulukhi sangat strategis, berada di jalur utama Surabaya-Madiun dan sering jadi persinggahan para peziarah dari luar daerah.

Dari beberapa sumber ( referensi ) beliau masih keturunan kerajaan yaitu dari garis mataram atau pajang yang memilih meninggalkan kemewahan dan menjalani jalan ( kehidupan ) sunyi sebagai seorang zahid ( menjauhi kemewahan dunia ).

Mengapa tiga makam ini penting bagi identitas Nganjuk ?

Jika diperhatikan ketiganya membentuk segitiga spiritual yang menjaga keseimbangan wilayah. Kanjeng Jimat ( Tengah/utara ) simbol ketaatan hukum dan keteraturan sosial. Ki ageng ngliman ( selatan) simbol kekuatan alam dan fisik mental. Syech Sulukhi ( barat ) simbol Kedalaman batin dan perjalanan ruhani.

Panduan bagi peziarah dan wisatawan

Pada malam jumat legi adalah waktu terbaik dan puncak di makam kanjeng jimat. Urutanya mulailah dari ziarah ke makam kanjeng jimat, lalu lanjutkan ke makam syech sulukhi dan tutup perjalanan dengan ziarah ke makam ki ageng ngliman.
















Posting Komentar

0 Komentar