Blog ini berisi rekomendasi dan review tempat wisata terbaik di Jawa Timur

Kamis, 01 Januari 2026

Liburan Tahun Baru 2026: Mengapa Wisata Lokal Kini Lebih "Seksi" Dibanding Destinasi Wisata Populer?

Kesegaran air pantai popoh Tulungagung

Ada hal berbeda saat memasuki awal tahun 2026. Hal menarik didunia pariwisata kita. Biasanya saat liburan panjang identik dengan kemacetan parah terutama jalur menuju wahana wisata popular atau wisata besar, namun tampaknya sekarang polanya sudah bergeser.

Kemungkinan salah satu penyebabnya adalah maraknya wisata buatan yang bersifat lokal baik ditingkat Desa maupun Kecamatan. Kita bisa lihat misalnya banyak taman-taman buatan diberbagai titik strategis di desa-desa maupun tingkat Kecamatan, baik yang dikelola oleh BUMDES maupun pengusaha.

Baca juga Keindahan wisata pantai di Tulungagung 

Belum lagi saat ini juga sedang marak bermunculan kafe dipelosok desa-desa dan tingkat Kecamatan yang juga menjadi tujuan wisata oleh masyarakat. Jika dulu untuk bisa nongkrong sambil minum kopi di kafe harus pergi ke pusat kota atau mall, tetapi saat ini dimana-mana telah berdiri kafe-kafe yang diminati kaum muda.

Fenomena menjamurnya kafe ini rupanya mampu menjadi magnet bagi masyarakat khususnya muda mudi, ini terbukti kafe lokal dengan kecerdasan desain untuk spot foto misalnya, selalu ramai dikunjungi.

Apa yang menyebabkan wisata buatan atau wisata lokal dan kafe yang saat ini menjamur dimana-mana menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat?. Rasa kepemilikan menjadi salah satu faktornya, taman wisata buatan yang dikelola oleh BUMDES misalnya, disana dalam proses pembuatanya melibatkan warga, para pedagang disana juga dari para warga sekitar.

Baca juga Dua Tempat Wisata Terbaik di Jawa Timur 

Dari warga untuk warga, inilah kemudian yang menciptakan keramahan sehingga pengunjung atau masyarakat tidak hanya berwisata dengan berfoto, nongkrong di gazebo, berenang, namun juga merasakan keramahan asli pedesaan mereka.

Biaya dan jarak juga menjadi faktor berikutnya. Para warga dan keluarga dapat menikmati pemandangan dan fasilitas yang tidak kalah dari wisata besar. Misalnya tempat foto yang instagramable, fasilitas gazebo yang nyaman, sarana edukasi pertanian, kolam pancing dan pusat kuliner. Semua dengan harga desa atau terjangkau. Mereka juga tidak perlu jauh-jauh berkendara.

Inilah salah satu yang mungkin berdampak pada kunjungan ke tempat wisata besar atau tempat wisata yang sudah punya nama. Hadirnya wisata lokal dan kafe berbalut wisata rupanya merubah peta kunjungan ke tempat wisata pada tahun baru 2026 ini.

Baca juga 7 Keindahan Alam di Kabupaten Malang 

Kalau dulu orang bisa berjam-jam antri dipintu masuk wisata populer, namun saat ini masyarakat punya alternatif berwisata yang dekat dan tenang. Perekonomian pun bisa berputar di masyarakat desa.

Akan tetapi apakah ini berarti masyarakat telah meninggalkan wisata populer ?. Tentu tidak sepenuhnya. Dampak wisata lokal yang hadir di desa-desa maupun tingkat Kecamatan hanya mengubah persebaran pengunjung.

Wisata besar atau populer sekarang tidak lagi sesak nafas dengan tumpukan pengunjung. Wisata buatan lokal berfungsi sebagai penyangga guna mengurai kerumunan dan kepadatan pengunjung terutama saat libur panjang.

Dari pengalaman berkunjung beberapa bulan terakhir ke beberapa lokasi wisata yang menjadi ikon di Kabupaten Nganjuk, Jombang, dan Tulungagung, tampak lengang. Beberapa fasilitas seperti penjual makanan sepi pembeli, toilet juga kurang terawat, demikian juga dengan penginapan atau hotel.

Baca juga Nikmati surga wisata di Wonosalam Jombang 

Mungkin inilah salah satu dampak ( seperti yang sudah saya bahas diatas ) terjadinya pergeseran ego wisatawan. Dulu mungkin orang bangga menginap dihotel yang berlokasi di area wisata populer. Namun sekarang orang-orang bergeser pada keunikan pengalaman.

Masyarakat sekarang lebih memilih menghabiskan uang mereka di tempat-tempat wisata lokal buatan yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Tetapi saya rasa ini bukan pertanda matinya pariwisata, tetapi Revolusi Wisata Desa.

Fenomena sepinya pariwisata populer di awal tahun 2026 ini merupakan pesan nyata bahwa peta pariwisata telah berubah. Masyarakat kini lebih menghargai ketenangan, keamanan, efisiensi biaya dan keunikan serta pengalaman.

Apakah wahana wisata besar ( wisata populer) perlu menurunkan harga tiket ataukah perlu berinovasi ? Ataukah masa kejayaanya sudah tergantikan ?

Lantas bagaimana dengan wisata lokal buatan yang kini marak kemunculanya ?. Ada tantangan bagi para pengelola wisata lokal buatan atau kafe lokal agar tidak trend ini tidak hanya menjadi demam sesaat saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pengelola wisata lokal agar trend positif ini tetap eksis, misalnya pengelolaan sampah, akses jalan yang terkadang sempit, fasilitas wifi, dan colokan listrik yang terkadang tidak ada.

Masyarakat tentu ingin biaya murah namun tetap dengan fasilitas yang standar dan mengedepankan kenyamanan. Pengelola wisata lokal harus memperhatikan hal ini agar pengunjung tetap ramai.

Misalnya lagi fasilitas mushola, toilet yang bersih, area parkir dan akses internet gratis. Para pengunjung datang tidak hanya sekedar ingin membeli makanan, ingin minum kopi, bersantai, tetapi juga ingin tetap terhubung digital. 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karnadi2025. Diberdayakan oleh Blogger.