Jangan Mengejar yang Tidak Allah Kehendaki: Memahami Maqam dan Ridha dalam Syariat

Ilustrasi seorang pria Muslim merenung di pendopo dengan latar belakang pemandangan sawah dan matahari terbit, melambangkan konsep reda terhadap takdir Allah dalam ajaran kitab Al-Hikam.

Dalam perjalanan spiritual seorang hamba, seringkali muncul konflik antara keinginan peribadi dengan kenyataan yang dihadapi. Ramai orang merasa bahawa kebahagiaan atau kedekatan dengan Tuhan hanya boleh dicapai jika mereka berada dalam situasi tertentu misalnya, ketika menjadi kaya agar boleh bersedekah, atau ketika menjadi penganggur agar punya banyak waktu untuk berzikir.

Namun, dalam perspektif Tasawuf, khususnya yang diajarkan dalam Kitab Al-Hikam oleh Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari, sikap seperti ini dianggap sebagai satu bentuk kejahilan yang nyata.

Menginginkan sesuatu muncul di luar apa yang telah ditentukan oleh Allah pada waktu tersebut adalah tanda "kebodohan yang sempurna." Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa kita tidak perlu mengejar apa yang tidak dikehendaki Allah dan bagaimana seharusnya adab kita dalam menerima setiap ketetapan-Nya.

Kebodohan Melawan Waktu dan Takdir

Ibarat seseorang yang ingin melihat bulan pada jam 12 tengah hari, atau ingin melihat matahari pada jam 12 tengah malam. Perbuatan ini bukan sahaja sia-sia, tetapi menunjukkan ketidakfahaman seseorang terhadap hukum alam yang telah ditetapkan Pencipta.

Setiap waktu telah memiliki "kandungannya" masing-masing. Jam 5 pagi membawa perintah Subuh, dan jam 12 tengah hari membawa perintah Zohor.

Apabila seseorang mengeluh mengapa adzan terlalu cepat atau mengapa situasi tidak sesuai dengan keinginannya, dia sebenarnya sedang coba mengatur Tuhan. Dalam bahasa yang lebih tajam ( Jawa ) “gobloke digowo kabeh” (kebodohannya dibawa semua), yang bermaksud seseorang itu tidak menyisakan sedikit pun kebijaksanaan dalam dirinya kerana sibuk mempertikaikan ketentuan Allah yang sudah jelas.

Memahami Konsep 'Iqomah' (Penempatan Allah)

Allah Swt menempatkan setiap hamba-Nya pada posisi atau "makam" yang berbeda-beda mengikut kehendak-Nya. Syekh Abil Abbas al-Mursi, menjelaskan bahwa keadaan manusia tidak akan terlepas daripada empat perkara.

1. Berada dalam kebenaran (ketaatan).

2. Berada dalam kesalahan (kemaksiatan/kelalaian).

3. Berada dalam kesenangan (nikmat).

4. Berada dalam kesusahan (ujian/bala).

Kesalahan besar manusia adalah seringkali terlalu berambisi untuk memilih hanya satu sisi sahaja ingin benar terus atau ingin senang terus. Padahal, hakikat kehidupan adalah perputaran antara keempat keadaan ini. Yang dituntut oleh syariat bukanlah kemampuan kita memilih maqom melainkan bagaimana adab kita saat berada di maqom tersebut.

Adab dalam Setiap Keadaan

Apabila kita memahami bahwa posisi kita saat ini adalah pilihan Allah, maka tugas kita adalah menjalankan "tugas" dalam posisi tersebut, bukan mencari posisi lain.

1. Jika diposisikan sebagai orang kaya.

Adabnya adalah dermawan dan menyadari bahwa harta itu adalah pemberian Allah, bukan semata-mata hasil usaha sendiri.

2. Jika diposisikan sebagai orang miskin

Adabnya adalah sabar dan mencari peluang ibadah di tengah kekurangan tersebut. Tidak perlu berangan-angan "andai aku kaya baru aku akan beribadah," kerana di dalam kemiskinan itu sendiri sudah ada peluang rahmat yang disediakan Allah.

3. Jika berada dalam kebenaran

Segera kembali kepada Allah (inabah) dan akui bahwa kebenaran itu milik Allah. Jangan merasa diri suci atau lebih baik daripada orang lain.

4. Jika terjatuh dalam kesalahan

Segera bertaubat. Allah menjadikan seseorang bersalah sebagai pintu untuknya kembali bersimpuh dan memohon ampun.

Bahaya Melawan Tatanan Alam (Sunnatulloh)

Mengenai bagaimana keinginan manusia yang melawan fitrah seringkali mendatangkan kesulitan yang besar. contoh dalam dunia pertanian. Allah sebenarnya telah menyediakan baja organik secara percuma melalui hewan ternakan. Namun, kerana manusia merasa pekerjaan menternak itu hina, mereka memilih untuk meninggalkan cara semula jadi tersebut.

Akibatnya, muncul keperluan untuk baja kimia, yang memerlukan kilang besar, pelaburan asing, dan kos pengangkutan yang tinggi. Ketidakmahuan manusia untuk menerima apa yang telah disediakan Allah di depan mata akhirnya menciptakan beban ekonomi dan sosial yang baru.

Begitu juga dalam kehidupan pribadi orang yang tidak rela dengan cuaca panas akan menghabiskan banyak uang untuk pendingin udara. padahal jika dia bersabar, waktu petang yang sejuk akan tiba dengan sendirinya. Ridho terhadap ketetapan Allah membawa ketenangan hati dan "kecukupan" dalam hidup.

Istirahatkan Dirimu dari Mengatur Tuhan

Jangan habiskan umur mengejar apa yang tidak dikehendaki Allah untukmu saat ini. Jika Allah meletakkanmu sebagai seorang ayah, jadilah ayah yang baik. Jika sebagai pekerja, jadilah pekerja yang amanah. Fokuslah pada bagaimana Allah memandangmu dalam posisi tersebut, bukan pada bagaimana cara berpindah ke posisi orang lain. Dengan bersikap reda dan menyesuaikan diri (muwafaqah) dengan kehendak Allah, beban hidup akan terasa ringan dan hati akan sentiasa tenang dalam naungan rahmat-Nya.




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar