Dalam perjalanan spiritual seorang manusia, sering kali muncul anggapan bahwa beribadah hanya terjadi di atas sajadah atau di dalam masjid. Banyak yang merasa bahwa kesibukan duniawi, seperti bekerja di sawah, berdagang di pasar, atau mengurus rumah tangga adalah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Hidupmu akan sia-sia jika kamu tidak tahu cara menjadikan setiap hembusan napas dan setiap pekerjaanmu sebagai sarana zikir kepada Allah.
Maqom, Posisi yang Ditentukan Allah
Setiap manusia telah ditempatkan oleh Allah pada "maqom" atau posisi masing-masing. Ada yang dijadikan petani, pedagang, guru, penjahit, pejabat, hingga ibu rumah tangga. Posisi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah penugasan dari Allah. Di setiap posisi tersebut, Allah menitipkan perintah yang spesifik.
Orang alim diperintahkan untuk mengajar, yang belum tahu diperintahkan belajar. Yang kaya diperintahkan untuk dermawan, yang kekurangan diperintahkan bersabar. Pejabat diminta berlaku adil, rakyat diminta taat. Bahkan dalam rumah tangga, setiap peran memiliki kewajiban hakiki. Inti dari semua posisi ini adalah satu: melaksanakan tugas sesuai dengan qadar atau ketetapan yang telah diberikan Allah saat itu juga.
Kesalahan besar yang sering dilakukan manusia adalah menunda zikir hingga pekerjaan selesai. "Nanti saja kalau sudah salat baru ingat Allah," begitu sering kita berpikir. Padahal, inti dari ajaran tasawuf adalah muraqabah, yaitu perasaan selalu diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT.
Profesionalisme sebagai Bentuk Ibadah
Dalam kacamata spiritual, menjadi profesional bukan sekadar tentang etika kerja duniawi, melainkan bagian dari memenuhi hak-hak Allah. Jika Allah memposisikanmu sebagai penjahit, maka kewajibanmu adalah menjadi penjahit yang baik dan jujur. Jika kamu seorang tukang, kerjakanlah dengan teliti bukan karena takut diawasi oleh sesama manusia yang mudah ditipu, melainkan karena sadar diawasi oleh Allah.
Ilmu yang kita gunakan untuk bekerja adalah milik Allah. Tubuh yang kita gerakkan untuk bekerja adalah nikmat-Nya. Maka, memenuhi hak-hak pekerjaan dengan sebaik-baiknya termasuk menjaga tata krama (adab) adalah bentuk nyata dari zikir. Bahkan hal-hal kecil seperti bekerja menghadap kiblat atau menjaga kesucian diri (wudu) saat beraktivitas adalah bagian dari menghiasi "makam" kita dengan cahaya ketaatan.
Latihan Menghadirkan Hati
Salah satu hal paling menarik adalah teknik melatih hati agar tetap "berbunyi" menyebut nama Allah (Allah, Allah...) di tengah aktivitas fisik. ibaratnya seperti seseorang yang sedang belajar naik sepeda. Pada awalnya, tangan yang memegang setir dan kaki yang mengayuh pedal sering kali tidak sinkron; jika fokus pada kaki, tangan goyah, dan sebaliknya. Namun, setelah mahir, tangan bisa menyetir, kaki mengayuh, mata melihat jalan, bahkan mulut bisa mengobrol dengan teman, semuanya berjalan otomatis tanpa saling mengganggu.
Begitu pula dengan hati. Mata boleh melihat layar komputer, tangan mengetik, dan pikiran memikirkan logika pekerjaan, namun hati harus tetap memiliki "pekerjaan" sendiri, yaitu berzikir. contoh sederhana: ibu yang mengulek sambal atau seseorang yang sedang menonton televisi pun bisa melatih hatinya. Tangan bergerak, mata memandang, namun di kedalaman batin, zikir terus mengalir. Inilah yang disebut dengan menjadikan alat kerja sebagai tasbih.
Bahaya Menunda Waktu Spiritual
Ibarat dalam salat, saat berdiri haknya adalah membaca Fatihah. Jika Fatihah ditunda untuk dibaca saat rukuk, maka salatnya batal. Begitu pula dalam hidup; saat tanganmu sedang bekerja, itulah waktu untuk bersyukur dan merasa diawasi. Jika kesadaran itu ditunda nanti setelah pulang kerja, maka waktu bekerja tersebut menjadi "kosong" dari nilai ketuhanan. Orang yang beruntung adalah orang yang "mengerti wayah"—tahu kapan harus bertindak secara syariat dan tahu bagaimana hatinya harus tetap tertambat pada Allah dalam setiap keadaan.
Dalam dunia tasawuf, sebutan Al-Fakir bukanlah tentang kemiskinan harta, melainkan tentang hamba yang senantiasa merasa butuh kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam pengabdiannya. Seorang Al-Fakir yang benar adalah dia yang setiap waktunya selalu tegak dalam hukum Allah.
Syekh Abil Hasan Asy-Syadzili: "Jadikanlah alat ukur daganganmu, meteran kainmu, traktor pertanianmu, atau mesin ketikmu sebagai tasbih untuk berzikir kepada Allah."
Jika kita mampu menerapkan ini, maka tidak ada lagi pemisahan antara dunia dan akhirat. Pekerjaan kita tidak lagi melelahkan secara batin, karena setiap tetes keringat berubah menjadi nilai ibadah. Hidup tidak akan sia-sia karena setiap detik yang kita lalui menjadi jembatan menuju keridaan-Nya. Kita tidak perlu lari dari dunia untuk menemukan Allah; kita hanya perlu menemukan Allah di dalam setiap aktivitas dunia kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar